Rabu, 03 Maret 2010

Penerapan Metode Giving Questions and Getting Answer Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Mata Pelajaran Matematika Pada Pokok Bahasan Pecahan

Penerapan Metode Giving Questions and Getting Answer Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Mata Pelajaran Matematika Pada Pokok Bahasan Pecahan

oleh : Suminto Fitriantoro, S.Pd

Hakekat Belajar
1 Pengertian Belajar
Banyak orang yang mengartikan tentang penegrtian belajar. Gagnie mengatakan, bahwa belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan seseorang yang dicapai melalui upaya orang itu dan perubahan itu bukan diperoleh secara langsung dari proses pertumbuhan dirinya secara ilmiah (Asri Budiningsih, 2005:3). Travers menagatakan bahwa belajar adalah proses yang menghasilkan penyesuaian tingkah laku (Asri Budiningsih, 2005:3). Sementara itu, Morgan mengatakan ”learning is any relatively permanent change in behavior that is a result of past experience.
Selain definisi-definisi di atas, ada beberapa pengertian lain tentang belajar baik yang bersifat makro maupun mikro. Dalam perspektif makro belajar merupakan kegiatan psiko-fisik-sosio menuju ke perkembangan pribadi seutuhnya. Dalam perspektif mikro, belajar diartikan sebagai usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan. Seperti yang dikatakan Reber, belajar adalah the proses of acquiring knowledge (Mulyati, 2005 : 30).
Dari berbagai definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan proses perubahan perilaku yang diakibatkan oleh tranplantasi ilmu pengatahuan. Penguasaan dan penambahan pengetahuan merupakan sebagaian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya.
2 Teori Belajar
Setiap teori pembelajaran memiliki aksentuasi berbeda dalam menjelaskan fenomena belajar. Secara garis besar teori pembelajaran dapat dikategorisasi menjadi yaitu teori perilaku dan teori kognitif.
Teori perilaku berakar pada pemikiran behaviorisme. Berdasarkan perspektif itu pembelajaran diartikan sebagai proses pembentukan perkaitan antara rangsangan (stimulus) dan balas (respon). Pembelajaran merupakan proses pelaziman (pembiasaan) dan hasil pembelajaran yang diharapkan adalah perubahan perilaku berupa kebiasaan (Paul Suparno, 2001 : 23).
Guru yang menggunakan paradigma behaviorisme akan menyusun bahan pelajaran yang sudah siap sehingga tuuan pembelajan yang dikuasai siswa disampaikan secara utuh oleh guru. Guru tidak hanya memberi ceramah tetapi juga contoh-contoh. Bahan pelajaran disusun hierarki dari yang sederhana sampai yang kompleks. Hasil dari pembelajaran dapat diukur dan diamati, kesalahan dapat diperbaiki. Hasil pembelajaran adalah terbentuknya suatu perilaku yang diinginkan.
Evaluasi pembelajran dalam paradigma behavioristik sering bersifat pasif, terpisah, menuntut satu jawaban benar, dan evaluasi sering dilakukan setelah selesai kegiatan belajar. Sementara evaluasi pembelajaran dalam paradigma konstruktivistik menekankan pada penyusunan makna secara aktif, melibatkan keterampilan terintegrasi dalam kontek nyata, menggali munculnya berfikir divergen, multi solution, dan evaluasi sebagai bagian utuh dalam proses pembelajaran (I Nyoman Sudana, 2005 : 67)
Teori kognitif berbeda dengan teori belajar behavioristik teori belajar kognitif lebih mementingkan proses daripada hasil belajar. Dalam teori ini lebih dititik beratkan pada teori perkembangan kognitif menurut Jean Piaget. Piaget mengemukakan bahwa perkembangan kognitif merupakan prose genetic. Artinya, perkembangan kognitif adalah proses yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan system saraf. Ketika individu berkembang menuju kedewasaan, individu itu akan mengalami adaptasi intelektual yang menyebabkan perubahan-perubahan kualitatif di dalam struktur kognitifnya. Piaget membagi tahap-tahap perkembangan kognitif menjadi 4 yaitu, sensory motor, pre- operation, concrete operation dan formal operation.
3. Hasil Belajar
Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. Merujuk pemikiran Gagne, hasil belajar berupa
1. Informasi verbal yaitu kapabilitas untuk mengungkapkan pengetahuan dalam bentk bahasa,baik lisan maupun tertulis.
2. Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang . keterampilan intelektual terdiri dari diskriminasi jamak. Konsep konkrit dan terdifinisi srta prinsip.
3. Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivias kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.
4. Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.
5. Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak obyek berdasarkan penilaian terhadap obyek tersebut.
(Cece Wijaya, 1999 : 19)
Menurut Bloom, hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor. Domain kognitif adalah knowledge (pengetahuan, ingatan), comprehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh), application (menerapkan), analysis (menguraikan, menentukan hubungan), synthesis (mengorganisasikan, merencanakan, membentuk bangunan baru), dan evaluation (menilai). Domain afektif adalah receiving (sikap menerima), responding (memberikan respon), valuing (nilai), organization (organisasi), characterization (karakterisasi). Domain psikomotor meliputi initiatory, pre-routine, dan rountinized. Di samping itu ranah psikomotor mencakup keterampilan produktif, tekhnik, fisik,social, managerial, dan intelektual (Dave Meier, 2002 : 25).



B. Motivasi Belajar
Dalam proses pembelajaran matematika kelas III semester II SDN Kemlaten 01 dirasakan kurang efektif. Kurang efektifnya pembelajaran karena siswa merasa jenuh atau bosan terhadap metode penyampaian materi yang digunakan oleh guru yaitu metode ceramah. Kebosanan ini menyebabkan motivasi belajar siswa rendah. Rendahnya belajar sejarah pada siswa berpengaruh terhadap prestasi belajarnya. Karena motivasi belajar mempunyai hubungan yang signifikan terhadap prestasi belajar.Motivasi belajar merupakan komponen yang sangat penting yang tidak dapat dipisahkan dari sistem pembelajaran.
Mc.Donald mengatakan,motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif(perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan (Oemar Hamalik, 2002 : 114). Motivasi merupakan dorongan dari dalamdiri seseorang untuk melakukan sesuatu.Motivasi merupakan kekuatan yang mendorong manusia untuk mencapai tujuan yang sebelumnya sudah direncanakan. Dalam hubungannya dengan kegiatan belejar motivasi merupakan faktor penggerak untuk belajar jika siswa sudah termotivasi untuk belajar maka siswa akan menganggap bahwa belajar merupakan kebutuhannya.
Motivasi membangkitkan rasa “butuh” siswa terhadap sesuatu yang akan mereka rencanakan.Abraham Maslow mengkaitkan antara motivasi dengan kebutuhan yaitu kebutuhan fisiologis, rasa aman, rasa cinta, penghargaan aktualisasi diri, mengetahui, mengerti dan kebutuhan estetik (Hamzah B Uno, 2006 : 1). Jika dalam aktivitas belajar siswa merasa “membutuhkan” berarti siswa tersebut memiliki motivasi yang tingg,sudah barang tentu ia akan belajar dengan sungguh-sungguh. Dilihat dari sudut pandangnya motivasi dibedakan jadi 2 yaitu motivasi intrinstik dan motivasi ekstrinstik.
1. Motivasi intrinstik
Motivasi intrinstik yaitu motif-motif yang menjadi aktif atau fungsinya tidak perlu dirangsang dari luar,melainkan timbul dari dirio seseorang.
2. Motivasi ektrinstik
Motivasi ektrinstik yaitu motif-motif yang menjadi aktif atau fungsinbya jika dirangsang dari luar .Dalam kegiatan belajar mengajar untuk mewujudkan motivasi ektrinstik siswa adalah peran guru.Bagaimana guru mampu menciptakan suasana belajar yang menarik dan menyengkan, sehingga siswa tidak merasa jenuh atau bosan berada di dalam kelas (Syaiful Bahri, 2002 : 115).
Ada berbagai macam motivasi dalambelajar antara lain:
a. Motivasi dilihat dari dasar pembentukan
b. Motivasi menurut pembagian Wood Worth dan Marquis
c. Motivasi jasmani dan rohani
d. Motivasi intrinstik dan ektrinstik
Motivasi dilihat dari dasar pembentukan,dibagi menjadi 2macam yaitu:
a. Motivasi bawahan adalah motivasi yang dilihat dari sejak lahir dan tanpa dipelajari,misalnya:motivasi untuk makan minum,bekerja,dll.
b. Motivasi yang dipelajari adalah motivasi yang timbul karena dipelajari,misalnya:motivasi untuk mengajar.
Motivasi menurut pembagian Wood Worth dan Marquis,dibagi menjadi 3 macam yaitu :
a. Motivasi kebutuhan organis,contoh : kebutuhan makan, minum, dsb.
b. Motivasi darurat, contoh: motivasi menyelamatkan diri, membalas, memburu.
c. Motivasi obyektif, contoh melakukan manipulasi, menaruh minat, dsb.
(Sardiman, 2007 : 86-90)
Motivasi berpengaruh kuat terhadap Proses Belajar Mengajar karena motivasi mempunyai fungsi sebagai berikut:
a. Mendorong manusia untuk berbuat, jadi motivasi sebagai motor melepaskan energi.
b. Menentukan arah tujuan yang dicapai.
c. Menyeleksi perbuatan yakni menentukan perbuatan yang dikerjakan.
Guru sangat berperan dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa yaitu:
a. Mempersiapkan untuk menggunakan cara atau metode dan media pengajaran yang bervariasi.
b. Merencanakan dan memilih bahan yang menarik minat dan dibutuhkan siswa.
c. Memberikan sasaran akhir belajar adalah lulus ujian atau naik kelas.
d. Memberikan kesempatan untuk sukses.
e. Diciptakan suasana belajar yang menyenangkan, suasana belajar yang sangat berisi rasa persahabatan, ada rasa humor, pengakuan akan keberadaan siswa, terhindar dari celaan dan makian.
f. Adakan persaingan sehat karena persaingan dan kompetisi yang sehat dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
(Syaiful Sagala, 2006 : 152-153)

C. Metode Pembelajaran Giving Questions and Getting Answer
1. Pengertian Metode Giving questions and getting answer
Menurut Surakhmad (1990:95) metode merupakan cara yang di dalam fungsinya merupakan alat unutk mencapai suatu tujuan. Sedangkan metode mengajar menurut Rusefendi (1988:281) adalah cara mengajar atau cara menyampaikan materi pelajaran kepada siswa unutk setiap pelajaran atau bidang studi. Hal ini dipertegas oleh Hasibun (1993:3) bahwa metode mengajar adalah alat yang dapat merupakan bagian dari perangkat alat dan cara dalam pelaksanaan suatu belajar mengajar untuk mencapai tujuan belajar.
Metode pembelajaran giving questions and getting answer merupakan implementasi dari strategi pembelajaran kontrukstivistik yang menempatkan siswa sebagai subyek dalam pembelajaran. Artinya, siswa mampu merenkontruksi pengetahuannya sendiri sedangkan guru hanya sebagai fasilitator saja. Metode giving questions and getting answer ditemukan oleh Spancer Kagan, orang berkebangsaan Swiss pada tahun 1963. Metode ini dikembangkan untuk melatih siswa memiliki kemampuan dan ketrampilan bertanya dan menjawab pertanyaan, karena pada dasarnya metode tersebut merupakan modifikasi dari metode Tanya jawab yang merupakan kolaborasi dengan menggunakan potongan-potongan kertas sebagai medianya.
Kegiatan bertanya dan menjawab merupakan hal yang sangat esensial dalam pola interaksi antara guru dan siswa. Mudjiono mengatakan, bahwa kegiatan bertanya dan menjawab yang dilakukan oleh guru dan siswa dalam proses belajar mengajar mampu menumbuhkan pengetahuan baru pada diri siswa (Mudjiono, 1991 : 40) . Metode giving questions and getting answer dapat dilakukan bersamaan dengan metode ceramah, agar siswa tidak dalam keadaan blank mind. Metode ceramah sebagai dasar agar siswa mendapatkan pengetahuan dasar (prior knowledge).
Dengan demikian siswa akan menjadi aktif dalam proses belajar mengajar dan mampu merekonstruksi pengetahuan yang dimilikinya, sedangkan guru hanya bertindak sebagai fasilitator. Adapun langkah-langkah penerapan metode givim\ng question and getting answer sebagai berikut:
a. Bagikan dua potong kertas kepada tiap siswa, kertas satu merupakan kartu untuk bertanya dan kertas kedua kartu untuk menjawab.
b. Kartu bertanya digunakan untuk ketika mengajukan pertanyaan, sebaliknya kartu menjawab digunakan untuk menjawa pertanyaan.
c. Mintalah semua siswa untuk menulis nama lengkap beserta nomor absensi di balik kartu-kartu tersebut.
d. Guru bisa mengawali penjelasan materi dengan menggunakan metode ceramah dan menyisakan waktu untuk dibuka sesi Tanya jawab.
e. Pada sesi Tanya jawab siswa dituntut untuk menghabiskan kartu-kartunya, dan apabila ada diantara mereka yang kartunya masih utuh dapat dikenakan hukuman.
f. Terakhir guru membuat kesimpulan atas sesi Tanya jawab tersebut.
2. Tujuan Metode Giving Questions and Getting Answer
Penerapan metode giving questions and getting answer dalam suatu proses belajar mengajar bertujuan untuk:
a. Mengecek pemahaman para siswa sebagai dasar perbaikan proses belajar mengajar.
b. Membimbing usaha para siswa untuk memperoleh suatu keterampilan kognitif maupun social
c. Memberikan rasa senang pada siswa.
d. Merangsang dan meningkatkan kemampuan berpikir siswa.
e. Memotivasi siswa agar terlibat dalam interaksi.
f. Melatih kemampuan mengutarakan pendapat.
g. Mencapai tujuan belajar.
3. beberapa kelebihan dan kekurangan dari metode giving questions and getting answer
a. kelebihan penerapan metode giving questions and getting answer adalah:
1. susunan lebih menjadi aktif.
2. Anak mendapat kesempatan baik secara individu maupun kelompok untuk menanyakan hal-hal yang belum dimengerti.
3. Guru dapat mengetahui penguasaan anak terhadap materi yang disampaikan.
4. Mendorong anak untuk berani mengajukan pendapatnya.
b. kelemahan penerapan metode giving questions and getting answer adalah:
1. pertanyaan pada hakekatnya sifatnya hanya hafalan.
2. Proses Tanya jawab yang berlangsung secara terus menerus akan menyimpang dari pokok bahasan yang sedang dipelajari.
3. Guru tidak mengetahui secara pasti apakah anak yang tidak mengajukan pertanyaan ataupun menjawab telah memahami dan menguasai materi yang telah diberikan.

D. Hubungan Metode Giving Questions and Getting Answer Dengan Motivasi Belajar Matematika
Matematika sifatnya hirarkhis yaitu apa yang disampaikan dalam kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan materi. Belajar matematika yang terputus-putus akan mengganggu proses belajar mengajar, sedangkan mengajar matematika merupakan suatu kegiatan guru untuk memberikan arahan/ bimbingan kepada siswa tentang materi matematika yang sedang dipelajari untuk mendapatkan pengatahuan, ketrampilan, kemampuan, dan sikap tentang matematika.
Motivasi belajar denganmetode pembelajaran mempunyai hubungan yang signifikan. Motivasi belajar dan metode pembelajaran merupakan aspek terpenting dalam menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Motivasi merupakan dorongan untuk melakukan belajar. Jika siswa termotivasi dalam belajar maka siwa merasa bahwa belajar merupakan kebutuhannya. Tanpa adanya motivasi belajar, siswa tidak akan melakukan aktivitas belajar. Dalam proses belajar, motivasi siswa dipengaruhi oleh dua factor yaitu factor dari dalam diri siswa itu sendiri dan factor dari luar diri siswa. Factor dari luar diri siswa dalam proses belajar mengajar itu salah satunya dipengaruhi oleh metode pembelajaran oleh guru. Metode pembelajaran merupakan implementasi dari strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran merupakan rencana untuk mengembangkan ruang lingkup materi pelajaran. Pemilihan metode pembelajaran yang tepat dan efektif mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga memepengaruhi motivasi belajar siswa. Jadi pemilihan metode pembelajaran menentukan tinggi rendahnya motivasi belajar siswa.



Hakekat Belajar
1 Pengertian Belajar
Banyak orang yang mengartikan tentang penegrtian belajar. Gagnie mengatakan, bahwa belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan seseorang yang dicapai melalui upaya orang itu dan perubahan itu bukan diperoleh secara langsung dari proses pertumbuhan dirinya secara ilmiah (Asri Budiningsih, 2005:3). Travers menagatakan bahwa belajar adalah proses yang menghasilkan penyesuaian tingkah laku (Asri Budiningsih, 2005:3). Sementara itu, Morgan mengatakan ”learning is any relatively permanent change in behavior that is a result of past experience.
Selain definisi-definisi di atas, ada beberapa pengertian lain tentang belajar baik yang bersifat makro maupun mikro. Dalam perspektif makro belajar merupakan kegiatan psiko-fisik-sosio menuju ke perkembangan pribadi seutuhnya. Dalam perspektif mikro, belajar diartikan sebagai usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan. Seperti yang dikatakan Reber, belajar adalah the proses of acquiring knowledge (Mulyati, 2005 : 30).
Dari berbagai definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan proses perubahan perilaku yang diakibatkan oleh tranplantasi ilmu pengatahuan. Penguasaan dan penambahan pengetahuan merupakan sebagaian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya.
2 Teori Belajar
Setiap teori pembelajaran memiliki aksentuasi berbeda dalam menjelaskan fenomena belajar. Secara garis besar teori pembelajaran dapat dikategorisasi menjadi yaitu teori perilaku dan teori kognitif.
Teori perilaku berakar pada pemikiran behaviorisme. Berdasarkan perspektif itu pembelajaran diartikan sebagai proses pembentukan perkaitan antara rangsangan (stimulus) dan balas (respon). Pembelajaran merupakan proses pelaziman (pembiasaan) dan hasil pembelajaran yang diharapkan adalah perubahan perilaku berupa kebiasaan (Paul Suparno, 2001 : 23).
Guru yang menggunakan paradigma behaviorisme akan menyusun bahan pelajaran yang sudah siap sehingga tuuan pembelajan yang dikuasai siswa disampaikan secara utuh oleh guru. Guru tidak hanya memberi ceramah tetapi juga contoh-contoh. Bahan pelajaran disusun hierarki dari yang sederhana sampai yang kompleks. Hasil dari pembelajaran dapat diukur dan diamati, kesalahan dapat diperbaiki. Hasil pembelajaran adalah terbentuknya suatu perilaku yang diinginkan.
Evaluasi pembelajran dalam paradigma behavioristik sering bersifat pasif, terpisah, menuntut satu jawaban benar, dan evaluasi sering dilakukan setelah selesai kegiatan belajar. Sementara evaluasi pembelajaran dalam paradigma konstruktivistik menekankan pada penyusunan makna secara aktif, melibatkan keterampilan terintegrasi dalam kontek nyata, menggali munculnya berfikir divergen, multi solution, dan evaluasi sebagai bagian utuh dalam proses pembelajaran (I Nyoman Sudana, 2005 : 67)
Teori kognitif berbeda dengan teori belajar behavioristik teori belajar kognitif lebih mementingkan proses daripada hasil belajar. Dalam teori ini lebih dititik beratkan pada teori perkembangan kognitif menurut Jean Piaget. Piaget mengemukakan bahwa perkembangan kognitif merupakan prose genetic. Artinya, perkembangan kognitif adalah proses yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan system saraf. Ketika individu berkembang menuju kedewasaan, individu itu akan mengalami adaptasi intelektual yang menyebabkan perubahan-perubahan kualitatif di dalam struktur kognitifnya. Piaget membagi tahap-tahap perkembangan kognitif menjadi 4 yaitu, sensory motor, pre- operation, concrete operation dan formal operation.
3. Hasil Belajar
Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. Merujuk pemikiran Gagne, hasil belajar berupa
1. Informasi verbal yaitu kapabilitas untuk mengungkapkan pengetahuan dalam bentk bahasa,baik lisan maupun tertulis.
2. Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang . keterampilan intelektual terdiri dari diskriminasi jamak. Konsep konkrit dan terdifinisi srta prinsip.
3. Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivias kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.
4. Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.
5. Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak obyek berdasarkan penilaian terhadap obyek tersebut.
(Cece Wijaya, 1999 : 19)
Menurut Bloom, hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor. Domain kognitif adalah knowledge (pengetahuan, ingatan), comprehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh), application (menerapkan), analysis (menguraikan, menentukan hubungan), synthesis (mengorganisasikan, merencanakan, membentuk bangunan baru), dan evaluation (menilai). Domain afektif adalah receiving (sikap menerima), responding (memberikan respon), valuing (nilai), organization (organisasi), characterization (karakterisasi). Domain psikomotor meliputi initiatory, pre-routine, dan rountinized. Di samping itu ranah psikomotor mencakup keterampilan produktif, tekhnik, fisik,social, managerial, dan intelektual (Dave Meier, 2002 : 25).



B. Motivasi Belajar
Dalam proses pembelajaran matematika kelas III semester II SDN Kemlaten 01 dirasakan kurang efektif. Kurang efektifnya pembelajaran karena siswa merasa jenuh atau bosan terhadap metode penyampaian materi yang digunakan oleh guru yaitu metode ceramah. Kebosanan ini menyebabkan motivasi belajar siswa rendah. Rendahnya belajar sejarah pada siswa berpengaruh terhadap prestasi belajarnya. Karena motivasi belajar mempunyai hubungan yang signifikan terhadap prestasi belajar.Motivasi belajar merupakan komponen yang sangat penting yang tidak dapat dipisahkan dari sistem pembelajaran.
Mc.Donald mengatakan,motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif(perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan (Oemar Hamalik, 2002 : 114). Motivasi merupakan dorongan dari dalamdiri seseorang untuk melakukan sesuatu.Motivasi merupakan kekuatan yang mendorong manusia untuk mencapai tujuan yang sebelumnya sudah direncanakan. Dalam hubungannya dengan kegiatan belejar motivasi merupakan faktor penggerak untuk belajar jika siswa sudah termotivasi untuk belajar maka siswa akan menganggap bahwa belajar merupakan kebutuhannya.
Motivasi membangkitkan rasa “butuh” siswa terhadap sesuatu yang akan mereka rencanakan.Abraham Maslow mengkaitkan antara motivasi dengan kebutuhan yaitu kebutuhan fisiologis, rasa aman, rasa cinta, penghargaan aktualisasi diri, mengetahui, mengerti dan kebutuhan estetik (Hamzah B Uno, 2006 : 1). Jika dalam aktivitas belajar siswa merasa “membutuhkan” berarti siswa tersebut memiliki motivasi yang tingg,sudah barang tentu ia akan belajar dengan sungguh-sungguh. Dilihat dari sudut pandangnya motivasi dibedakan jadi 2 yaitu motivasi intrinstik dan motivasi ekstrinstik.
1. Motivasi intrinstik
Motivasi intrinstik yaitu motif-motif yang menjadi aktif atau fungsinya tidak perlu dirangsang dari luar,melainkan timbul dari dirio seseorang.
2. Motivasi ektrinstik
Motivasi ektrinstik yaitu motif-motif yang menjadi aktif atau fungsinbya jika dirangsang dari luar .Dalam kegiatan belajar mengajar untuk mewujudkan motivasi ektrinstik siswa adalah peran guru.Bagaimana guru mampu menciptakan suasana belajar yang menarik dan menyengkan, sehingga siswa tidak merasa jenuh atau bosan berada di dalam kelas (Syaiful Bahri, 2002 : 115).
Ada berbagai macam motivasi dalambelajar antara lain:
a. Motivasi dilihat dari dasar pembentukan
b. Motivasi menurut pembagian Wood Worth dan Marquis
c. Motivasi jasmani dan rohani
d. Motivasi intrinstik dan ektrinstik
Motivasi dilihat dari dasar pembentukan,dibagi menjadi 2macam yaitu:
a. Motivasi bawahan adalah motivasi yang dilihat dari sejak lahir dan tanpa dipelajari,misalnya:motivasi untuk makan minum,bekerja,dll.
b. Motivasi yang dipelajari adalah motivasi yang timbul karena dipelajari,misalnya:motivasi untuk mengajar.
Motivasi menurut pembagian Wood Worth dan Marquis,dibagi menjadi 3 macam yaitu :
a. Motivasi kebutuhan organis,contoh : kebutuhan makan, minum, dsb.
b. Motivasi darurat, contoh: motivasi menyelamatkan diri, membalas, memburu.
c. Motivasi obyektif, contoh melakukan manipulasi, menaruh minat, dsb.
(Sardiman, 2007 : 86-90)
Motivasi berpengaruh kuat terhadap Proses Belajar Mengajar karena motivasi mempunyai fungsi sebagai berikut:
a. Mendorong manusia untuk berbuat, jadi motivasi sebagai motor melepaskan energi.
b. Menentukan arah tujuan yang dicapai.
c. Menyeleksi perbuatan yakni menentukan perbuatan yang dikerjakan.
Guru sangat berperan dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa yaitu:
a. Mempersiapkan untuk menggunakan cara atau metode dan media pengajaran yang bervariasi.
b. Merencanakan dan memilih bahan yang menarik minat dan dibutuhkan siswa.
c. Memberikan sasaran akhir belajar adalah lulus ujian atau naik kelas.
d. Memberikan kesempatan untuk sukses.
e. Diciptakan suasana belajar yang menyenangkan, suasana belajar yang sangat berisi rasa persahabatan, ada rasa humor, pengakuan akan keberadaan siswa, terhindar dari celaan dan makian.
f. Adakan persaingan sehat karena persaingan dan kompetisi yang sehat dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
(Syaiful Sagala, 2006 : 152-153)

C. Metode Pembelajaran Giving Questions and Getting Answer
1. Pengertian Metode Giving questions and getting answer
Menurut Surakhmad (1990:95) metode merupakan cara yang di dalam fungsinya merupakan alat unutk mencapai suatu tujuan. Sedangkan metode mengajar menurut Rusefendi (1988:281) adalah cara mengajar atau cara menyampaikan materi pelajaran kepada siswa unutk setiap pelajaran atau bidang studi. Hal ini dipertegas oleh Hasibun (1993:3) bahwa metode mengajar adalah alat yang dapat merupakan bagian dari perangkat alat dan cara dalam pelaksanaan suatu belajar mengajar untuk mencapai tujuan belajar.
Metode pembelajaran giving questions and getting answer merupakan implementasi dari strategi pembelajaran kontrukstivistik yang menempatkan siswa sebagai subyek dalam pembelajaran. Artinya, siswa mampu merenkontruksi pengetahuannya sendiri sedangkan guru hanya sebagai fasilitator saja. Metode giving questions and getting answer ditemukan oleh Spancer Kagan, orang berkebangsaan Swiss pada tahun 1963. Metode ini dikembangkan untuk melatih siswa memiliki kemampuan dan ketrampilan bertanya dan menjawab pertanyaan, karena pada dasarnya metode tersebut merupakan modifikasi dari metode Tanya jawab yang merupakan kolaborasi dengan menggunakan potongan-potongan kertas sebagai medianya.
Kegiatan bertanya dan menjawab merupakan hal yang sangat esensial dalam pola interaksi antara guru dan siswa. Mudjiono mengatakan, bahwa kegiatan bertanya dan menjawab yang dilakukan oleh guru dan siswa dalam proses belajar mengajar mampu menumbuhkan pengetahuan baru pada diri siswa (Mudjiono, 1991 : 40) . Metode giving questions and getting answer dapat dilakukan bersamaan dengan metode ceramah, agar siswa tidak dalam keadaan blank mind. Metode ceramah sebagai dasar agar siswa mendapatkan pengetahuan dasar (prior knowledge).
Dengan demikian siswa akan menjadi aktif dalam proses belajar mengajar dan mampu merekonstruksi pengetahuan yang dimilikinya, sedangkan guru hanya bertindak sebagai fasilitator. Adapun langkah-langkah penerapan metode givim\ng question and getting answer sebagai berikut:
a. Bagikan dua potong kertas kepada tiap siswa, kertas satu merupakan kartu untuk bertanya dan kertas kedua kartu untuk menjawab.
b. Kartu bertanya digunakan untuk ketika mengajukan pertanyaan, sebaliknya kartu menjawab digunakan untuk menjawa pertanyaan.
c. Mintalah semua siswa untuk menulis nama lengkap beserta nomor absensi di balik kartu-kartu tersebut.
d. Guru bisa mengawali penjelasan materi dengan menggunakan metode ceramah dan menyisakan waktu untuk dibuka sesi Tanya jawab.
e. Pada sesi Tanya jawab siswa dituntut untuk menghabiskan kartu-kartunya, dan apabila ada diantara mereka yang kartunya masih utuh dapat dikenakan hukuman.
f. Terakhir guru membuat kesimpulan atas sesi Tanya jawab tersebut.
2. Tujuan Metode Giving Questions and Getting Answer
Penerapan metode giving questions and getting answer dalam suatu proses belajar mengajar bertujuan untuk:
a. Mengecek pemahaman para siswa sebagai dasar perbaikan proses belajar mengajar.
b. Membimbing usaha para siswa untuk memperoleh suatu keterampilan kognitif maupun social
c. Memberikan rasa senang pada siswa.
d. Merangsang dan meningkatkan kemampuan berpikir siswa.
e. Memotivasi siswa agar terlibat dalam interaksi.
f. Melatih kemampuan mengutarakan pendapat.
g. Mencapai tujuan belajar.
3. beberapa kelebihan dan kekurangan dari metode giving questions and getting answer
a. kelebihan penerapan metode giving questions and getting answer adalah:
1. susunan lebih menjadi aktif.
2. Anak mendapat kesempatan baik secara individu maupun kelompok untuk menanyakan hal-hal yang belum dimengerti.
3. Guru dapat mengetahui penguasaan anak terhadap materi yang disampaikan.
4. Mendorong anak untuk berani mengajukan pendapatnya.
b. kelemahan penerapan metode giving questions and getting answer adalah:
1. pertanyaan pada hakekatnya sifatnya hanya hafalan.
2. Proses Tanya jawab yang berlangsung secara terus menerus akan menyimpang dari pokok bahasan yang sedang dipelajari.
3. Guru tidak mengetahui secara pasti apakah anak yang tidak mengajukan pertanyaan ataupun menjawab telah memahami dan menguasai materi yang telah diberikan.

D. Hubungan Metode Giving Questions and Getting Answer Dengan Motivasi Belajar Matematika
Matematika sifatnya hirarkhis yaitu apa yang disampaikan dalam kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan materi. Belajar matematika yang terputus-putus akan mengganggu proses belajar mengajar, sedangkan mengajar matematika merupakan suatu kegiatan guru untuk memberikan arahan/ bimbingan kepada siswa tentang materi matematika yang sedang dipelajari untuk mendapatkan pengatahuan, ketrampilan, kemampuan, dan sikap tentang matematika.
Motivasi belajar denganmetode pembelajaran mempunyai hubungan yang signifikan. Motivasi belajar dan metode pembelajaran merupakan aspek terpenting dalam menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Motivasi merupakan dorongan untuk melakukan belajar. Jika siswa termotivasi dalam belajar maka siwa merasa bahwa belajar merupakan kebutuhannya. Tanpa adanya motivasi belajar, siswa tidak akan melakukan aktivitas belajar. Dalam proses belajar, motivasi siswa dipengaruhi oleh dua factor yaitu factor dari dalam diri siswa itu sendiri dan factor dari luar diri siswa. Factor dari luar diri siswa dalam proses belajar mengajar itu salah satunya dipengaruhi oleh metode pembelajaran oleh guru. Metode pembelajaran merupakan implementasi dari strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran merupakan rencana untuk mengembangkan ruang lingkup materi pelajaran. Pemilihan metode pembelajaran yang tepat dan efektif mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga memepengaruhi motivasi belajar siswa. Jadi pemilihan metode pembelajaran menentukan tinggi rendahnya motivasi belajar siswa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar